Benteng Vredeburg Jejak Belanda di Yogyakarta

  • Whatsapp
benteng vredeburg yogyakarta

Wisata Yogyakarta – Benteng Vredeburg, bagi sebagian orang pasti familiar dengan istilah tersebut. Kata Vredeburg seperti bahasa Belanda. Apa hubungan Belanda dan Yogyakarta? Benteng Vredeburg sangat dekat dengan sejarah berdirinya Keraton Yogyakarta. Tahun 1755 adalah saat Belanda masih menduduki wilayah Indonesia. Pemisahan antara Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta melalui Perjanjian Giyanti tidak terkecuali pada peran Belanda. Pada 1760 Sri Sultan Hamengku Buwono I mendirikan benteng sederhana atas permintaan Belanda. Pada 1765, Belanda mengusulkan agar benteng tersebut lebih permanen. Atas persetujuan Raja Yogyakarta, benteng tersebut dibangun. Benteng baru selesai dibangun pada tahun 1787 dengan nama “Rustenburg” yang berarti “Benteng Peristirahatan”.

Sejarah Nama Benteng Vredeburg

Pada tahun 1867 terjadi gempa bumi dahsyat yang mengguncang Yogyakarta dan menghancurkan semua bangunan. Ini termasuk Keraton Yogyakarta, Tugu Yogyakarta, dan tentu saja Rustenburg. Belanda mulai mempromosikan Rustenburg, setelah menyelesaikan benteng itu diganti namanya menjadi “Vredeburg” yang berarti “Benteng Perdamaian”. Benteng Vredeburg berbentuk bujur sangkar dengan pintu menghadap ke barat dan dikelilingi parit sebagai pertahanan. Di dalam Benteng Vredeburg terdapat bangunan seperti rumah perwira, asrama tentara, gudang logistik, gudang senjata bahkan rumah sakit. Benteng itu mampu menampung kurang lebih 500 orang
Suasana di Benteng Vredeburg Yogyakarta

Akhirnya Benteng Vredeburg mulai lepas dari tangan Belanda. Pada tahun 1949 Benteng Vredeburg menjadi salah satu sasaran utama Pemogokan Umum 1 Maret. Benteng Vredeburg akhirnya jatuh ke tangan Republik Indonesia.

 

 

Benteng Vredeburg Menjadi Museum

Pada tahun 1992 Benteng Vredeburg menjadi museum dengan nama baru (lagi) “Museum Benteng Yogyakarta”. Namun masyarakat Yogyakarta lebih mengenal nama lama “Benteng Vredeburg” dari pada nama barunya. Sesuai dengan fungsinya yang baru, Benteng Vredeburg menjadi tempat studi sejarah perjuangan rakyat Indonesia melawan Belanda. Berbagai peninggalan sejarah masih dipertahankan di kompleks benteng putih ini. Bangunan khas kincir angin ini masih kokoh, dengan beberapa meriam dan kafe (bahkan ada yang menjual makanan) untuk hiasan taman. Begitu memasuki ruangan, wisatawan akan menemukan beberapa benda bersejarah lainnya, dan tentunya diorama yang bisa Anda ceritakan sendiri. Diorama ini menggambarkan perjuangan rakyat Yogyakarta melawan penjajah dan pemberontak dari sejarah Pangeran Diponegoro hingga Gerakan PKI 30 September.
Diorama di Benteng Vredeburg, Yogyakarta

Nongkrong di Benteng Vredeburg

Benteng Vredeburg terletak di tengah-tengah kota Yogyakarta, di sebelah sudut utara perempatan kilometer 0 dan merupakan titik awal dari Jalan Malioboro. Selain sebagai tempat wisata sejarah, Benteng Vredeburg memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang gemar nongkrong. Selain terkenal dengan museumnya, Benteng Vredeburg tidak lepas dari Monumen Serangan Umum 1 Maret yang berada di lokasi yang sama. Selain sebagai tugu peringatan perebutan Yogyakarta dari Belanda, Tugu Serang Umum 1 Maret tak kalah asyiknya sebagai tempat nongkrong. Waktu terbaik untuk menikmati keindahan kota Yogyakarta di sini adalah saat malam hari. Kemegahan Monumen Serangan Umum 1 Maret yang bersejarah berubah malam. Papan ini disulap fungsinya menjadi tempat pamer skateboard skater. Dari dewasa hingga anak-anak, membuat kreasi dengan papan selancar disini.
Monumen Serangan Vredeburg pada 1 Maret

Dengan suasana yang digunakan, tempat ini menjadi destinasi wajib bagi anda yang ingin belajar sejarah, berbelanja (di Malioboro), atau sekedar duduk-duduk menikmati eksotisme kota Yogyakarta yang ramah di Benteng Vredeburg.

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *